Thursday, June 30, 2011

Aku ( sang gadis kasmaran) & Maulana Jalaluddin Rumi





Akulah gadis yang sedang kasmaran. Rasaku peka dan imajinasiku bagai musim-musim yang berubah demikian cepat. Marah menjadi manis, sedih terasa sedap dan hampa seperti labirin yang menantangku untuk mencari cahaya, menuntunku untuk sampai di ujungnya.

Akulah gadis yang sedang kasmaran. Dan seperti Rumi yang merindukan Syams at Tabriz , aku pun merindukan kekasihku, mencari segala cara untuk sampai padanya.

Seperti Rumi, akulah petualang tersesat yang kemudian mati-matian membaca peta dengan cermat. Berusaha berjalan terus sampai ke tepi bintang, merangkak di dinding-dinding pengetahuan yang tanpa dasar. Aku tersesat di pusar naga, lalu terlambung di buritan kapal kerinduan yang membuatku nanar. Tak ada kota Konya. Tak ada teman terbungkus jubah wol.

Dalam kesendirian, aku menolak teman dan hiburan. Dalam kesendirian, aku seperti penari darwis yang berputar dan mengetahui bahwa angin yang datang mengelilingiku dalam tarian adalah jelmaan kekasih yang kurindukan. Dan kepada angin yang anggun menatap, inilah gemetar rindu yang kubisikan:

Kekasihku… denganmu kutahu kita bisa menari melintasi wajah ketakterbatasan.
Kekasihku.. tak ada waktu yang tersia saat kita berdua bersama.
Kekasihku.. bahkan seribu tahun, ku kan setia menunggu…
Karena kekasihku… sampah jiwaku telah terburai saat aku menemukanmu.
Karena kekasihku, kutemukan cahaya di bibir dan desah nafasmu…
Karena kekasihku… kisaran pasir telah memurnakanku…
Memunahkan hasratku akan nafsu memilikimu…
Ma’arif itu kekasihku…
Ia telah datang padaku melaluimu.


Seperti Rumi yang menikah dengan kebenaran
Tadi malam, kau menjelma kebijakan
Menpersuntingku dalam diam

____________

*
tapi terkadang ku bertanya, wahai kekasihku tersayang,
kaukah impian tentang anggur di malam musim dingin yang kulihat di mata para pemabuk?
Ataukah kau hanya mimpi tak nyata?
Yang menghilang di pelupuk saat kumembuka mata?

No comments:

Post a Comment